Kilas Sejarah Gunongan

Taman sari Gunongan

BANDA ACEH – Gunongan adalah salah satu wisata pendidikan berupa replika gunung bertingkat tiga dengan bagian puncak berupa sebuah teras berbentuk menara.

Bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada tahun (1607-1636) abad ke-17. Taman sari Gunongan dan kandang dinamakan juga taman Ghairah yang ditengahnya mengalir sungai darul asyiqi. Taman ini digunakan untuk tempat bersenang senang permaisuri sultan iskandar muda, putri pahang anak dari sultan johor. Menurut kisah cerita sejarah, pada masa itu dibangunkan untuk sang permaisuri sebagai obat rindu akan kampung halamannya.

Kemudian kandang dijadikan makam Sultan Iskandar tsani menantu sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun (1636-1642) , Sultan Iskandar Tsani adalah anak dari sultan pahang Malaysia yang menikah dengan sultanah Safiatuddin Tajul Alam (1642-1673).

Berlokasi di jalan Teuku Umar, Banda Aceh, Gunongan berhadapan  dengan lokasi kuburan serdadu dari Belanda “Kerkoff”.

Gunongan atau gegunungan bentuknya lengkung menirukan topografi gunung yang berlapis lapis, bagian puncak terdapat ornamen berupa mutiara berkelopak. Mempunyai sudut sepuluh, tiap sudut dilengkapi bagian semacam altar berornamen bunga mekar berdaun runcing.

Pintu masuk berada disebelah sisi selatan, untuk memasukinya harus posisi membungkuk, secara filosofis sebagai ungkapan hormat apabila bertamu.

Peterana batu berukir, berada didepan sebelah kiri gunongan, ukuranya berdiameter 1 m dan tinggi 0,5 m, bagian tengah berlubang dan sisi utaranya dilengkapi dengan trap semacam tangga sebanyak 2, dan informasi dari petugas penjaga museum gunongan, peterana ini difungsikan sebagai tempat sang permaisuri keramas.

Selesai menelusuri bangunan gunongan, pengunjung juga dapat mengakses ruang pameran berisikan informasi sejarah kerajaan, nisan peninggalan dan penjelasan sejarah lain terkait kerajaan aceh darusaalam, pintu khop, istana aceh dan sebagainya.

Untuk memasuki cagar budaya satu ini pengunjung sama sekali tidak dipungut biaya (gratis), pengelolaannya juga langsung dibawah Kementerian Pendidikan dan Pariwisata unit pelayanan teknis Aceh dan Sumatera Utara.

Suke Pangon,  Erna dan berbagai sumber

Sanger

Sanger

ACEH – Sanger? Istilah ini pertama kali saya dengar setelah menginjakkan kaki di Aceh. Kalau di Jawa saya biasa dengar kata ‘sangar’ sebagai label pada satu kekuatan dan kedigdayaan yang lebih. Tapi di Aceh, Sanger adalah sebutan untuk minuman.

Campuran kopi dan krimer kental manis layaknya kopi susu. Namun beda, rasanya juga jauh berbeda. Krimer terpadu kental dan lekat sekali dengan kopi, seolah ada cita rasa baru yang bukan kopi, bukan susu, bukan kopi susu juga, tapi sanger. Bagaimana ya kalimat pas nya untuk saya bisa mendeskripsikan? Pokoknya recommended class lah.

Pembeda sanger dengan kopi susu adalah selain rasa sebagai hasil akhir, adalah cara pembuatan.
Aceh terkenal kopi tanpa ampas, karena proses pembuatanya dengan disaring berulang-ulang, untuk sangerpun juga sama. Kemudian dicampur dengan krim kental manis dan sedikit dikocok hingga ada busa diatasnya.

Dimana saja sanger bisa dinikmati? Seluruh kedai kopi di Aceh punya menu ini, masuk dan pesanlah, selamat menikmati. Menariknya lagi, perihal rasa, selalu berbeda dari satu kedai ke kedai lainnya.

Misteri pembangunan Benteng Indra Patra

Benteng Indra Patra

ACEH BESAR- Benteng menurut Marihandono (2010)adalah bangunan untuk keperluan militer yang dibuat untuk keperluan pertahanan sewaktu dalam peperangan, sekaligus sebagai tempat perlindungan bagi mereka yang tinggal di dalamnya.

Di kawasan Aceh Besar, kita akan dapati peninggalan Benteng Indra Patra yang terletak di Pantai Ujong Batee, Desa Ladong, Jalan Krueng Jaya, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Aceh yang sejak tempo dulu menjadi pusat perdagangan di Selat Malaka sangat memerlukan sebuah benteng guna menjaga keamanan kotanya sekaligus menjamin keselamatan penduduk di dalamnya dari serangan musuh.

Selain Indrapatra di sepanjang pesisir pantai utara terdapat beberapa benteng lain antara lain; Benteng Iskandar Muda, Benteng Kuta Lubok, Benteng Inong Balee.

Dilihat dari seni bangunan dan arsitektur, Benteng Indrapatra menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan benteng-benteng disekitarnya. Berdasarkan pada bentuk bangunan yang nampak, Benteng Indrapatra telah mengalami beberapa tahap periodisasi dalam bentuk dan fungsinya. Adanya pendapat bahwa benteng ini merupakan warisan tradisi masa Hindu tidak dapat kita kesampingkan begitu saja. Ini dapat dilihat dari beberapa kenampakan bagunan yang masih tersisa yang menunjukkan adanya pengaruh dari tradisi Arsitektur masa sebelum Islam dalam hal ini masa Hindu.

Apabila berpijak pada konsepsi pemikiran oleh beberapa sumber yang menyatakan bahwa keberadaan Benteng Indrapatra jauh sebelum masuknya Islam dan difungsikan menurut kebutuhan pada masanya. Pada awal keberadaanya atau kedatangan agama Hindu, benteng tersebut kemungkinan difungsikan sebagai tempat ibadah atau kegiatan ritual keagamaan. Selain itu juga merupakan tempat hunian para keluarga raja dan pembesar istana.

Setelah masuknya Islam, terjadi perubahan fungsi yang cukup drastis, yaitu menjadi sebuah benteng pertahanan. Hal ini ditunjukan dengan adanya komponen bangunan seperti tapal kuda yang biasanya berfungsi sebagai tempat meletakkan moncong meriam. Selain itu benteng ini juga dikelilingi oleh parit yang berfungsi sebagai sarana pertahan, yaitu sebagai penghambat gerakan musuh yang akan mencapai benteng. Keberadaan parit keliling benteng ini banyak dijumpai pada benteng-benteng keraton di Pulau Jawa. Di keraton-keraton Jawa parit keliling ini disebut jagang, dan biasanya di tempatkan buaya di dalamnya. Dalam buku ‘ Tarech Aceh dan Nusantara” disebutkan bahwa di Aceh Besar terdapat sebuah benteng yang bernama Indrapatra. Menurut buku tersebut, bangunan benteng itu bukan merupakan candi atau masjid, tetapi tempat menyimpan alat-alat senjata perang seperti bedil, mesin pelor, meriam dan lain-lain. Ada kemungkinan bahwa pada waktu itu Sultan Iskandar Muda merebut benteng tersebut setelah sebelumnya sempat dipakai oleh Portugis (Zainuddin, 1961:43).

Suke Pangon, dari berbagai sumber