Sedekah dan Kekekalan Energi

Barang tentu kita sudah mengenal pelajaran fisika sejak duduk di bangku SMP (sekolah menengah Pertama). Apalagi yang lulus SMP sekitar tahun 2000. Di mana ada satu hukum yang amat terkenal di dalam pelajaran tersebut. Hukum kekekalan energi merupakan prinsip fisika yang menyatakan bahwa sebuah energi tidak dapat dibuat atau diciptakan tapi dapat diubah dalam bentuk energi-energi yang lainnya.

Total energi dari suatu sistem dapat berupa energi kinetik, energi potensial, energi panas, dan lain sebagainya. Bentuk-bentuk energi tersebut dapat berubah menjadi bentuk energi lainnya sehingga total energi pada suatu sistem akan selalu sama.

Ilmu ini akan selalu melekat dan teringat sampai kita sekarang, dan kita percaya akan hukum itu.

Korelasi yang kemudian terbangun adalah antara hukum kekekalan energi tersebut dengan sedekah.

Sedekah adalah pemberian seorang muslim kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Sedekah lebih luas dari sekadar zakat maupun infak. Karena sedekah tidak hanya berarti mengeluarkan atau menyumbangkan harta. Namun sedekah mencakup segala amal atau perbuatan baik. Dalam sebuah hadis digambarkan, “Memberikan senyuman kepada saudaramu adalah sedekah.”

Keutamaan Sedekah salah satunya dapat memberikan keberkahan pada hartanya, sebagaimana dalil.

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)

Kita sering mendengar kajian dari ustad Yusuf Mansur Sedekah itu itu bukan hanya membawa kebahagian di akherat, tapi juga di dunia,”

Bagaimana caranya?
“Apabila membutuhkan rezeki yang besar, maka bersedekahlah,” ujarnya.
Uang yang kita amalkan, lanjutnya, akan kembali berlipat ganda.

Semoga ilmu sekolah yang kita dapatkan dapat memberikan motivasi dan semangat kita untuk beramal sedekah. Karena hakikatnya harta yang kita keluarkan tidak akan berkurang, ia hanya berpindah ruang dan selanjutnya menaikkan derajat keberkahan.

Melangkahlah Walau Berat

Langkah pertama itulah langkah terberat,  seperti anak kecil yang baru belajar berjalan bagaimana langkahnya tertatih tatih. Seperti itu pula kita melangkah pertama dalam mewujudkan sebuah impian.

Menjadikan impian sebagai kenyataan tak seperti membalikkan telapak tangan. Tidak dalam sekejap bisa terwujud,  karena hidup ini bukan sulap tapi hidup itu realita yang menuntut  banyak usaha.

Fokus mengejar impian itulah jalan yang harus ditempuh,  setapak demi setapak harus melangkah,  walaupun impian itu selalu berubah seiring dengan kematangan jalan pikiran kita.

Pilihan terbaik adalah pilihan yang kita tentukan sendiri (bukan karena orang lain), tak perlu memyesali ketika terjadi kegagalan demi kegagalan, karena kegagalan awal kesuksesan

Kegagalan bukan berarti kita tidak melangkah,  mungkin marena kita belum  punya ilmunya jadi carilah kekuranganya teruslah perbaiki

Hingga selanjutnya kita bisa memahami bahwa sebenarnya tujuan hidup kita bukan hanya di dunia tapi tujuan kita akhirat,  jadi impian dunia ini sebagai sarana kita beramal,  meniti jalan-jalan kebaikan.

Cold Brewing Kopi Wine, Sensasi Menikmati Kopi dengan Aroma dan Rasa Wine

Bilang Kopi Wine, mungkin yang terlintas dalam pikiran pertama adalah minuman kopi yang dicampur wine jadi mengandung alkohol.

Kopi wine merupakan kopi hasil dari proses pascapanen karena proses ini menghasilkan sensasi rasa dan aroma wine yang kuat pada kopi. Hal ini terjadi lantaran fermentasi kulit, daging, dan getah diserap oleh biji kopi dalam jangka waktu yang lama. Hasil dari penjemuran kopi yang memakan waktu lebih lama, yakni 30-60 hari.

Sedangkan cold brew adalah teknik “menyeduh” bubuk kopi hitam dengan air dingin (atau air suhu ruangan) selama kurang lebih 12-24 jam untuk mendapatkan rasa yang optimal.

Cara menikmati kopi yang paling optimal meminumnya ditambah Es batu. Rasa asam,  pahit,  manis dan dingin menyatu menjadi satu dengan aroma fermentasi.

Trah Petani Yang Tak Lagi di Wariskan

Apa yang muncul dalam benak pikiran anda ketika disebutkan kata petani? Dari dulu sampai sekarang pasti jawabanya adalah sebagian besar mata pencaharian penduduk Indonesia terutama di daerah pedesaan.

Petani menjadi mata pencaharian primadona bagi penduduk kelahiran tahun 50 dan 60, mengapa bisa begitu? Peminatan mata pencaharian tampaknya mulai mengalami pergeseran di penduduk kelahiran 80 sampai 2000. Rerata mereka yang sudah lulus sekolah menengah atas atau bahkan kuliah apakah menjadi petani? Sebagian besar tidak. Meski mayoritas mereka adalah anak petani.

Menurut data dari BPS per Febuari 2017 mencatat jumlah petani Indonesia tinggal 36 juta orang, turun 1,2 juta sejak Febuari 2014. Mengapa penurunan jumlah petani ini bisa terjadi? Salah satu sebabnya anak petani sudah tidak lagi berminat untuk jadi petani.

Miris? Tidak. Hal ini lumrah sebenarnya, seperti halnya anak guru belum tentu menjadi guru ataupun anak pedagang belum tentu jadi pedagang.

Terlebih dengan melihat menggunaka perspektif harapan dari para petani, kebanyakan berharap anak mereka dapat hidup lebih enak dan gak susah seperti mereka. Tidak bekerja banting tulang siang dan malam di sawah. Banyak bapak ibu petani berharap anaknya menjadi seorang pegawai negeri sipil, militer, polisi atau pegawai BUMN karena bekerja tidak kepanasan dan tidak perlu memakai otot untuk mencari penghasilan, cukup duduk di ruang tertutup berhadapkan buku, bulpen dan layar komputer. Selain itu setelah pensiun masih mendapatkan tunjangan. Anak dapat mengubah nasib menjadi lebih baik dari mereka, itu harapnya.

Harapan demikian bakal gayung bersambut, anak para petani di era milineal ini kemudian dinaikkan gengsinya. Mereka beranggapan menjadi petani adalah pekerjaan kasar dan rendahan.

Ditinjau secara ekonomi memang pekerjaan petani itu tidak ada memberikan untung besar karena input sekarang sudah tinggi tidak cukup untuk membiayai biaya hidup apalagi jika sekedar buruh petani.

Saprodi (sarana produksi) bibit padi mahal, obat obat pertanian mahal dan cenderung naik, pupuk subsidi susah dicari kalaupun ada tidak sesuai dengan keinginan petani karena sudah dijatah pemerintah. Irigasi yang harus memakai sumur bor, kuli kasar sudah banyak berkurang dan yang terkahir adalah hasil penjualan hasil produksi yaitu gabah masih sangat rendah karena pastinya pemerintah masih juga impor beras.

Namun sejatinya kondisi demikian harus segera disikapi. Menyikapinya dengan cara apa? Anak-anak petani atau sarjana-sarjana pertanian mengimplementasikan ilmu tinggi dan wawasan luas yang mereka dapatkan di bangku-bangku pendidikan agar pertanian pedesaan terus meningkat kualitasnya serta bertambah kuantitasnya.

Semoga pertanian Indonesia dapat segera terselamatkan.

Kemerdekan Kreativitas Generasi Milenial dalam Pengembangan Industri 4.0

Diksi ‘merdeka’ adalah kata yang terucap ketika kita memperingati hari kemerdekaan setiap tanggal tujuh belas Agustus, di setiap tahunnya. Di mana merdeka didefinisikan sebagai bebas dari segala bentuk penjajahan, penindasan, kezaliman, keterbelakangan dan pembodohan. 

Pada tahun 2019 ini, bangsa indonesia memperingati hari kemerdekaan yang ke 74 tahun dengan mengambil tema ” SDM Unggul Indonesia Maju ” diharapkan dapat menjadikan motivasi bagi masyarakat Indonesia untuk lebih maju dalam berbagai aspek kehidupan dan bijaksana dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin moderen

Generasi millennial adalah generasi pertama yang tumbuh dengan Internet dan memiliki akses yang mudah terhadap informasi yang bisa didapat hanya dengan gadget. Dengan itulah, generasi ini mengembangkan keinginan dan target tinggi untuk belajar dan berkembang lebih cepat dari generasi sebelumnya, termasuk di dalamnya dalam hal kreativitas.

Kementerian Perdagangan Indonesia menyatakan bahwa Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu.

Sebenarnya disinilah potensi besar dimiliki oleh bangsa, sumber daya alam melimpah ditambah bonus demografi sumber daya manusia pengabungan dalam industri kreatif.

Kita menunggu apakah kemerdekaan ini hanya sebatas kata merdeka ataukah akan menjadi kenyataan kemerdekaan yang hakiki dalam hal ekonomi. Selamat merdeka dan memerdekakan kreativitas wahai generasi milenial.

Menakar Eksistensi Wayang Kulit Dalam Tradisi Bersih Desa

Tradisi Bersih Desa merupakan tradisi kebudayaan tahunan. Tradisi yang dilaksanakan setiap selesai panen raya. Ritual tersebut dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan hasil panen yang melimpah.

Prosesi pelaksanaan biasa dimulai dengan gotongroyong membersihkan masjid, kuburan, halaman rumah dan jalan-jalan di pagi hari. Hal ini dimaksudkan agar keadaan desa nampak bersih.

Siang harinya, seluruh warga desa mengadakan kenduri yang biasa dilaksanakan di suatu halaman masjid atau halaman/lapangan yang luas tertentu yang disepakati masyarakat setempat. Warga membawa perlengkapan kenduri masing-masing berupa nasi dan lauk yang ditempatkan pada encek, ceting atau penampan. Selanjutnya diadakan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa atau Modin.

Tiba malam hari diadakannya acara pertunjukan wayang kulit yang bertempat di halaman rumah pamong desa. Pertunjukan Wayang kulit ini bertujuan sebagai sarana hiburan sekaligus pendidikan untuk warga desa. Dalam Lakon Wahyu memberikan tuntunan, tontonan, dan tatanan dalam masyarakat. Karena dalam lakon tersebut, berisikan nilai-nilai yang memperkaya pengalaman jiwa yang tidak lepas dari nilai kemanusiaan, Ketuhanan, keadilan, tapa brata, dan keagungan.

Era milenial seperti sekarang terdapat sedikit pergeseran eksistensi pagelaran wayang di kegiatan bersih desa seperti ini. Perihal tontonan warga desa, sehingga pertunjukan wayang kulit sedikit di geser agak malam mulainya. Sehabis magrib diadakanya kegiatan pentas seni dari anak anak warga desa dan habis isya hiburannya electone. Sehingga lagi-lagi, pertunjukan wayang yang syarat pesan moral dan nilai hanya disaksikan sesepuh/orang dewasa. Terputusnya penuturan sejarah mulai tercipta di sini. Barangkali sekarang memang yang lagi ngetrend dikalangan milenial desa lagu koploan?

Apakah pertunjukan wayang kulit akan semakin terdesak dan menghilang seiring zaman? Kita lihat lima atau sepuluh tahun kedepan. Semoga generasi penerus kita tidak meninggalkan dan ditinggalkan sejarah serta budayanya.

QURBANMU DAN KEKAYAANMU

Idul Adha penuh dengan makna, mulai dari bagaimana kita mengambil hikmah dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Pelajaran yang dipetik adalah bagaimana pengorbanan Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail wujud dari ketaatan kepada Allah SWT semata. Akhirnya Allah menganti Nabi Ismail dengan seekor Domba

Saat sekarang kita diminta untuk berQurban dengan hewan ternak langsung, tidak lagi dengan Qurban anak keturunan kita namun seberapa mampukah kita bisa mengikuti perintah ini? Pengorbanan terhadap sebagian rezeki harta untuk membeli hewan ternak. Mengurangi tabungan untuk membeli hewan qurban lantas membagi-bagikan?
Untuk para peternak mungkin tidak akan kerasa, ia cukup mengambil dari yang ia punya. Sedang masyarakat umum harus merogok kocek cukup dalam yang mana itu tentu saja menjadi godaan berat, sehingga kelapangan pun terasa sempit, ada uang tapi saat tiba waktu qurban serasa lagi ga ada uang. Itu godaannya

Maka sejatinya pengorbanan itu harus dilakukan untuk menilai seberapa tingkat kekayaan kita, karena belum tentu orang mampu mau berqurban. Tingkat kekayaan itu ada di dalam diri kita, mau mengeluarkan sebagian rezeki untuk melaksanakan perintah atau tidak, itu hakikatnya

Kaya atau miskin tergantung tingkat persepsi kita bukan?
Dan semoga keikhlasan senantiasa menyertai amalan-amalan kita, menjadi sarana taqarrub kita kepada-Nya.

Matinya Penggilingan Padi kecil, Bagaimanakah Nasib Desa Yang Akan Datang

Ngawi – Swasembada pangan selalu di dengung dengungkan pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terutama bagi petani.

Berbagai kebijakanpun dilakukan agar bisa terwujudnya swasembada pangan tersebut, salah satunya penetapan harga yaitu harga pembelian pemerintah.

Sementara mengacu pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2015, Bulog melakukan pembelian gabah (kadar air maksimum 25%) di tingkat petani sebesar Rp 3.700 per kilogram (kg) dan Rp 4.600 per kilogram di tingkat penggilingan.

Panen Raya juli 2019 harga gabah kering panen sekitar Rp 4.100 sampai Rp 4.600 per kilogram, sedangkan harga gabah kering giling Rp 5.000 per kilogram. Memicu petani lebih senang menjual harga gabah kering panen.

Namun permasalahanya ialah pembeli gabah kering panen ini merupakan pedagang besar berasal dari luar kota. Hal ini menyebabkan tengkulak atau pedagang kecil yang berada di desa tidak bisa berbuat banyak dan akhirnya gulung tikar.

Saya masih teringat dengan dosen pembimbing skripsi ketika melontarkan sebuah pertanyaan apakah bagus panjangnya rantai distribusi ataukah pendeknya rantai distribusi? Pembimbing satu berpendapat lebih baik pendek rantai distribusi karena harga produsen akan semakin tinggi, sedangkan pembimbing dua lebih berpendapat akan semakin panjanh rantai distibusi maka keberkahan itu akan ada.

Menilik dari permasalahan diatas uang yang beredar di desa akan semakin berkurang, karena hanya dimiliki petani, sedangkan rantai distribusi tengkulak dan pedagang kecil yang mengolah gabah menjadi beras gulung tikar. Bisa dipastikan pertumbuhan ekonomi desa akan terhambat.