Ngawi dengan Konsep Kota Ambyar

Siapakah yang sudah mengenal Ngawi?
Mungkin sebagian orang belum begitu mengenal Ngawi sebelum meninggalnya Didi Kempot sang maestro Godfather of Broken Heart. Sang maestro yang kemudian di makamkan di Ngawi mengantarkan masyarakat banyak yang mengenal Ngawi.

Sebenarnya Ngawi sudah menjadi kota penting sejak zaman kerajaan Mataram. Ngawi merupakan lumbung padi kerajaan Mataram yang disebut daerah Sukowati meliputi Sragen dan Ngawi sebagaimana disampaikan dalam kajiannya Salim A Fillah dengan tema Babat Tanah Jawa tentang masuknya islam di Nusantara.

Kita tahu kerajaan Mataram dipecah menjadi dua bagian sekarang yang kita kenal Yogyakarta dan Surakarta. Dua kota ini kita kenal dengan kota seni dan budaya yang menjadi primadona wisatawan saat berlibur. Maka bukan tidak mungkin darah seni budaya juga mengalir dalam warga Ngawi selanjutnya.

Sebelum meninggalnya Didi Kempot, Ngawi mulai dikenal dari lantunan lagu Deny Caknan dengan Kartonyono medot janji. Kartonyono merupakan Tugu utama di Ngawi mirip seperti tugu Di Jogja. Tugu perempatan yang menghubungkan jalan provinsi dan masuk ke kota.

Deretan seniman sebelumnya yang sudah banyak dikenal seperti Topan dan Lesus serta Mamik Prakoso sebagai pelawak. Ratih Sanggarwati seorang model. Dian Oerip sebagai seorang desainer yang sudah go internasional.

Sekarang setelah meninggalnya sang maestro Didi Kempot banyak yang berkeinginan menjadi the Next Ambyar. Ada Hatma Prakoso salah satu keponakan Didi Kempot yang berusaha untuk menjadi pelawak meneruskan jejak sang ayah Mamik Prakoso sedangkan kakaknya Shuma Prada dibilang sama Hatma turun gunung dari seorang bisnisman kemudian menjadi penyanyi agar trah jiwa seni dalam keluarga tidak berhenti.

Inilah saatnya ngawi berbenah dengan nostalgia sejarah darah kota seni dan budaya dengan artis yang ada menuju kota masa depan. Barangkali Ngawi akan sukses menjadi ambyar.

Suke Pangon