Petani Hidup Tanpa Hutang, Bisa?

Saat panen tiba cobalah untuk berkeliling di setiap bank di kecamatan pastilah akan penuh sesak. Saat masih di bangku sekolah, pikiran saya mempersepsi berarti petani kalau pas panen tiba banyak yang menabung. Lantas saya tanyakan ke orang tua. Jawaban orang tua nanti kalau udah bermasyarakat pasti tau.

Ketika sudah bermasyarakat akhirnya kemudian saya menemukan jawaban bahwa ketika panen tiba para petani akan membayar hutang dan akan meminjam lagi untuk biaya tanam selanjutnya. Demikian selalu berputar. Kalau seperti ini pola yang diterapkan, sampai kapan petani tidak berhutang? Mereka berasumsi, kalau gak berhutang petani tidak bisa menanam.

Ingat bukan ketika masih kecil kita menginginkan sepeda, beli mainan atau makanan yang istimewa bahkan baju atau perlengkapan sekolah? Orang tua akan bilang “Nanti ya kalau sudah panen Bapak/Ibu baru bisa belikan”. Siapa yang ingat dan mengalaminya?

Beban semua pengeluaran petani terjadi saat panen tiba dan pendapatan habis saat masa tanam datang. Sehingga kondisi inilah para petanimembutuhkan suntikan dana untuk tanam selanjutnya. Itulah pola yang harus di alami petani.

Nah apakah petani bisa terlepas dari pola hutang yang sudah mendarah daging mungkin sampai turun temurun? Dari beberapa pandangan dalam diskusi dengan teman teman yang bergelut dalam pertanian, sangat mungkin dan bisa petani itu tidak perlu berhutang namun ada langkah langkahnya.

Pertama petani harus bisa mengevaluasi dirinya sendiri mengapa harus berhutang, menguntungkan atau tidak berhutang. Sejauh ini bagi saya berhutang kalau bukan untuk menambah aset (sawah) hanya untuk menanam saja maka sangat merugikan petani karena ada bunga dari berhutang sedangkan pendapatan tetap.

Membayangkan atau bermimpi kalau kita tidak punya hutang maka pikiran akan lebih fresh dan tidak ada beban sehingga bisa menikmati hidup lebih nyaman dan santai, bisa bertindak lebih leluasa dalam aktualisasi diri.

Ketiga bahwa berhutang itu kurang baik bagi kita maka haruslah merubah mindset kita harus bisa bersedekah dan menunaikan zakat agar keberkahan dalam bertani ada.

Haruslah kita merubah pola dalam kehidupan kenapa perlu berhutang sih kalau masih mampu berdikari sendiri. Berarti ada yang salah dalam hidup ini kalau masih perlu berhutang. Apakah pengeluaran kita terlalu tinggi ataukah kita perlu menambah pendapatan agar tidak punya hutang?

Terakhir agar tidak punya hutang adalah kita punya target keluar dari jeratan hutang, apakah dalam jangka waktu 4 bulan, 8 bulan, 1 tahun, 2 tahun atau 3 tahun.

Semoga bermanfaat dan kita sama sama belajar keluar dari jeratan hutang.

Suke Pangon

Buruh Tani dan Pertanian Terintegrasi

Membincang tentang pertanian maka tak akan lepas dari peternakan, perkebunan, perikanan atau familiar disebut dengan agrokomplek.

Pekerja yang berkecimpung di bidang agrokomplek kerap dibayang bayangi isu kemiskinan atau kondisi pra sejahtera. Kemiskinan kultural yang secara turun temurun diwarisi karena tidak adanya daya upaya untuk merubah kondisi.

Bagi para buruh tani melalui pendidikan berupaya mengubah kemiskinan, berharap anaknya akan mendapatkan pekerjaan yang mampu mengangkat derajat hingga sejahtera tercapai kelak di masa depan.

Tapi selalu ada cara untuk mencukupi kebutuhan buruh tani melalui pekerjaan sampingan yang bisa mengurangi pengeluaran dan meningkatkan pendapatan.

Apa saja yang perlu dilakukan buruh melalui upaya dengan bekerja sebagai petani?

Pertama, wajiblah memelihara ternak dan berkebun. Inilah cara integrasi pertanian secara kecil kecilan.

Memelihara ternak di sini bisa dengan memelihara kambing, sapi ataupun ayam. Sapi atau kambing bisa memilih salah satunya. Sebagai tabungan tahunan dikeluarkan saat kebutuhan hewan ternak melonjak seperti saat hari raya qurban tiba.

Lantas bagaimana mekanisme kerja yang dibangun? Seorang buruh tani saat pulang kerja siang atau sore membawa pakan ternak berupa rerumputan (ngarit). Kotoran ternak padat dan cair bisa digunakan sebagai pupuk untuk menggemburkan tanah.

Memelihara ayam ini sebagai bagian agar makanan sisa setiap hari tidak terbuang percuma. Ayam bisa dijual sewaktu waktu kalau membutuhkan. Telur ayam bisa dijadikan tambahan protein lauk sehari-hari.

Terkahir, upaya lain yang bisa dimanfaatkan pekaraan rumah dengan menanam sayuran, seperti cabai, terong, kangkung, bayam, tomat, kacang panjang. Selain untuk di masak setiap hari, kelebihanya dapat dijual. Dijual langsung ke pasar ataupun dengan dititipkan penjual sayur keliling.

Semoga ide serta gagasan ringan ini bisa dilakukan bagi mereka yang ingin berubah taraf hidup dan kesejahteraan. Karena telah teruji secara nyata, di mana gagasan lama terpakai dan dijalankan oleh orang tua hingga nenek kakek kita.

Membaca Penegakan Syariat Islam di Tanah Aceh

Bicara tentang penegakan syariat islam akan selalu pro dan kontra. Tetapi bagi kami yang belajar islam, setiap muslim wajib untuk menegakkan syariat. Karena sejatinya syariat itulah akan dikembalikan pada keamanan dan keselamatan diri kita sebagai manusia.

Dalam diri saya pribadi, ketika berbicara tentang penegakan syariat selalu tergambar tentang hukum potong tangan kalau mencuri, rajam, cambuk dan sebagainya. Mindset itu terbangun dari pengetahuan terbatas semasa saya masih kecil bahkan tertanam hingga dewasa.

Aceh, sebagai provinsi yang komitmen menetapkan syariat islam dalam kehidupan sehari hari. Salah satunya dalam hal berbusana haruslah mencerminkan seorang muslim. Apalagi untuk muslimah diwajibkan berkerudung serta tidak berpakaian ketat yang melanggar norma agama Islam. Di Aceh juga diberlakukan razia penertiban pakaian agar sesuai dengan aturan. Tugas penertiban itu dilakukan oleh satuan polisi pamong praja / waliyatul hisbah (satpol pp/ WH).

Awalnya saya berfikir kenapa sih harus dilakukan razia pakaian segala karena dalam hal berpakaian merupakan hak asasi masing masing individu. Sampai akhirnya anak saya bilang sama bundanya pas di ajak ke salah satu pasar area Banda Aceh. “Bunda bunda kenapa yang di deket satunya itu gak pakai kerudung? Kan perempuan”, celetuknya spontan. Pasar tersebut merupakan daerah perdagangan yang kebanyakan keturunan cina dan bukan pemeluk islam. Ternyata menjaga pandangan anak sejak dini memang berpengaruh sekali. Anak yang mulai belajar mengamati dan mengenal aturan islam ditambah lingkungan hidup dia di Aceh semakin menginternalisasikan nilai pada cara berpikirnya.

Kemudian pikiran saya kembali terpantik ketika muncul berita beberapa waktu lalu di mana sejumlah perempuan pesepeda yang menggunakan baju ketat dan tidak berkerudung keliling di seputaran wilayah Banda Aceh. Aksi yang menuai hujatan dan kritikan dari masyarakat luas lantaran aktivitas mereka bersepeda yang menyalahi aturan syariat di Aceh. Hingga pada akhirnya walikota Banda Aceh mengambil sikap tegas dengan memerintahkan satpol PP/WH untuk menangkap pelaku bersepeda dibawa ke kantor dan diberikan pembinaan serta diminta menyampaikan permohonan maaf kepada publik atas tindakan mereka tersebut.

Hal positif yang dilakukan oleh seorang kepala daerah untuk menghormati dan mentaati peraturan tentang syariat islam yang diterapkan di aceh. Pelaku diminta untuk meminta maaf dan tidak mengulangi. Jika kita mengamati, sanksi yang diberikan pertama adalah peringatan. Bukan langsung sanksi tegas berupa cambuk kepada para pelanggar. Dari sini frame berpikir saya mulai berubah. Ternyata sungguh mulia dan memuliakan aturan syariat islam itu.

Sekali lagi memang umat islam sangatlah perlu ditegakkan syariat agar keberkahan itu muncul serta bisa menjaga pandangan mata. Tegaknya syariat islam tidak mengancam namun justru menyelamatkan.

Suke Pangon

Gunung Kering, Ngare Subur

Rerata masyarakat secara luas memahami bahwa pegunungan merupakan tempat yang sejuk dan subur. Aliran air yang terus menerus sepanjang waktu. Pertanian menjadi komoditas andalan. Seperti padi, ketela dan sayuran. Udara pun segar juga pemandangannya asri.

Beberapa tahun lalu, ketika pergi ke pasar area atas seperti Ngrambe dengan naik bus. Sepanjang jalan dimanjakan dengan udara sejuk dan pemandangan hijau, dipinggir jalan terdapat sungai mengalir. Namun sekarang bagaimana? Kondisi sudah berubah menjadi panas dan dipinggir jalan air sudah tidak mengalir.

Ketika kita perjalanan dari kota, sampai Soco maka akan terlihat hamparan sawah yang kering tidak lagi ditanami, kadang setahun cuma sekali tanam. Itu yang terlihat dari pinggir jalan, bagaimana dengan tempat yang lainya?

Beberapa tempat di daerah Jogorogo, Ngrambe dan Sine sudah tidak ada aliran air dari sungai sepanjang tahun. Menyebabkan sudah tidak bisa bertanam padi setahun 3 kali, kadang malah sekali saja kalaupun itu ada musim penghujan.

Ada yang bilang sumber air sebagian di ambil untuk air minum. Sehingga berakibat aliran untuk sungai jadi berkurang. Apakah penyebabnya itu saja? Ataukah memang cuaca yang berubah. Ataukah pegunungan sudah berkurang tanamanya sehingga saya resap tetumbuhan di musim penghujan jadi berkurang?

Akhirnya ada perubahan secara sosial dalam masyarakat. Kalau dulu gunung selalu hijau tanaman adanya air sepanjang tahun, sekarang kering karena aliran air gak sepanjang tahun. Sedangkan ngare mulai dari kerten sudah ada sumur menjadikan pertanian hijau sepanjang tahun. Kemudian, untuk tetap bertahan hidup, masyarakat di pegunungan beralih profesi menjadi pedagang.

Bagaimana cara mengembalikan gunung menjadi hijau, aliran air tetap terjaga sepanjang tahun? Karena kondisi tersebut lah yang menjadi kerinduan, yang secara tidak langsung akan meningkatkan ekonomi karena akan ada yang kembali ke pertanian.

Suke Pangon

Dilema Sumur Sawah, Ke Arah Mana Nasib Petani?

Irigasi merupakan aspek utama dalam pertanian. Mulai dari mengolah tanah tempat benih, memelihara benih, dan paling banyak dibutuhkan saat memasuki masaa tanam padi. Apakah disini sudah selesai sampai di sini? Masih lama lagi sekitar 90 hari lagi membutuhkan air, biasanya seminggu sebelum panen terakhir juga membutuhkan air.

Selama setahun menanam padi pada musim tanam ke tiga yang paling membutuhkan air, mulai tanam sampai hampir panen. Kalau musim tanam pertama dari awal sampai akhir kelebihan air karena terbantu hujan di musim penghujan. Sedangkan musim tanam ke dua awal hujan, baru akhir membutuhkan air.

Masih ingat dulu sekitar tahun 90’an untuk mengairi sawah sudah tercukupi dari aliran sungai. Menjelang tahun 2000 sudah bermunculan sumur pompa dengan mesin di atas tanah.

Ketika air permukaan sudah mulai menurun, akhirnya petani mulai mengusahakan lebih keras, petani menggunakan sumur bor dengan memakai mesin dibawah tanah. Maksudnya di bawah dibuat lubang sedalam 4 – 8 meter mendekati permukaan air untuk tempat mesin.

Ketika BBM naik dan mencari solar sebagai bahan mesin diesel semakin sulit maka kemudian petani beralih menggunakan sumur sibel atau artesis menggunakan listrik.

Obrolan di warung kopi, seorang petani pernah nyeletuk dan bilang sumur sibel itu mesin sibelnya ditaruh didalam sumurnya, geraknya mengikuti permukaan air. Nah kalau air permukaan semakin menurun kita nanti pakai sumur apalagi? Ada yang kemudian menimpali, “itu tandanya kiamat petani sudah gak bolej bertanam lagi”, mereka tertawa berkelakar bersama. hahahahaa

Dari sini sebenarnya harus ada upaya menjaga kelestarian lingkungan agar air sumber tetap lestari terjaga. Sekarang kekeringan sudah semakin parah dan musim kemarau lebih panjang. Tugas dan tanggung jawab bersama untuk mencari cara bagaimana agar lahan tetap subur, air tetap terjaga dan lingkungan tetap lestari. Biarlah hidup kita menjadi terus hidup untuk kehidupan.

Suke Pangon

Gandeng Pimpinan Daerah Endorse Produk UKM, Siapa yang Diuntungkan?

Efek masa pandemi berakibat pada eksistensi produk Usaha Kecil Menengah (UKM).  Beberapa produk mengalami penurunan penjualan secara onfline, akhirnya beralih ke penjualan secara online. Penjualan secara online melalui beragam media sosial.

Salah satu strategi yang  digunakan produsen/pelaku  UKM agar cepat dikenal produknya dengan cara endorse. Endorse dengan bantuan selebgram maupun influencer yang mempunyai follower besar. Tentu saja efek larisnya produk adalah signifikansi yang  diharapkan.

Akhir akhir ini, ada beberapa pimpinan daerah yang juga dilibatkan dalam endorse produk UKM.  Melibatkan pimpinan daerah untuk endorse produk UKM secara berkala barangkali akan cukup  membantu produk UKM di kenal di daerah tersebut.

Poin menarik sekali untuk kita pelajari tentang endorse oleh pimpinan daerah ini. Jika selebgram memang aktivitas rutinnya mempromosikan produk dengan mendapatkan imbalan. Demikian juga influencer.
Nah kalau pimpinan daerah bagaimana?  Seberapa banyak follower para pemimpin daerah sehingga jangkauan promosi dan impresi dari endorse produknya UKM tersebut saat di endorse. Terkait efektivitas dalam promosi.

Di masa  jelang pemilihan kepala daerah  seperti  sekarang ini. Adakah tujuan lain dari pimpinan daerah melalui endorse yang mereka laksanakan?  Menarik sebagai bahan diskusi. Apalagi akan mengikuti kontilasi politik. Akankah mampu membawa impresi naik untuk produk yang dipromosikan dari kalangan follower  kepala daerah  di media sosial, atau justru  membawa efek signifikan untuk  reputasi kepala daerah sebagai incumbent untuk  maju menjadi calon kepala  daerah lagi?

Secara umum saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan pimpinan daerah karena jelas membantu memasarkan produk UKM masyarakatnya kepada konsumen baru.  Selanjutnya  bagaimana? Mari ajak bermain persepsi dan  spekulasi kita.

Suke Pangon



Bersepeda, Cara Orang Kaya Beraktualisasi

Olahraga sangat dianjurkan di tengah pandemi Corona, ditujukan agar imunitas meningkatkan untuk menjaga kesehatan. Olahraga yang dimaksudkan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku. Tidak olahraga di tempat keramaian/dengan berkerumun, menjaga jarak agar terhindar dari terpapar Corona dan sebagainya. Akhirnya banyak yang memilih bersepeda sebagai alternatif olahraga yang kondusif.

Bersepeda bisa menjangkau ke tempat sepi dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Sehingga bisa mengurangi rasa kebosanan saat berolah raga. Jarak antar person juga bisa terjaga.

Bagi generasi kelahiran 1980 – 1990 bersepeda sudah tidak asing lagi, sebab pergi ke sekolah naik sepeda sudah menjadi rutinitas. Mulai dari SD sampai SMP bahkan ada yang sampai SMA.

Saat teman teman seangkatan kuliah posting bersepeda saya pikir awalnya mereka bernostalgia karena kebiasaan naik sepeda motor atau mobil menggantikan kebiasaan lama untuk bersepeda. Bersepedanya biasanya saat wekend tiba, setelah itu makan sambil beristirahat. Berawal bersepeda sendiri hingga sekarang sudah ada komunitas bersepeda.

Sepeda yang dipakai ada sepeda lipat, sepeda gunung dan sepeda balap, dan inilah beberapa macam sepeda yang sering dipakai. Dalam benak di hati wah bagus juga nih bersepeda dan sudah memplaning untuk membeli sepeda juga.

Beberapa teman kemudian posting dan lihat juga di internet harga sepeda sekitar 3 jutaan, pikir saya tidak mahal sudah standart. Tetapi akhir akhir ini beberapa teman posting di status jual frame sudah di atas 10 juta. Wihh mahal ternyata.

Ada juga yang posting saat membeli ditempat sepeda. Katanya sekarang sepeda banyak yang beli dan stok toko hanya tinggal 1/3 saja dari kondisi biasanya. Saat di cek cek ternyata harga sangat luar biasa sekali di atas puluhan juta semua. Belum perlengkapan lainya.

Nah kalau ada temen kamu yang memang levelnya sudah di atas kamu jangan pernah tanya harga sepedanya ya. Cukup tau saja.

Mereka bersepeda karena tidak bisa berwisata dan berpergian. Jadi barangkali, gaya hidup yang dimunculkan sebagai kesan dari bersepeda adalah cara mereka beraktualisasi.

Suke Pangon

Bagaimana Bisa Buruh Tani Sejahtera?

Membicarakan buruh tani pasti akan terbesit tentang kemiskinan. Kalau di pinggiran kota bisa sepenuhnya benar,  tetapi kalau di desa belum tentu benar.

Kemalasan yang menjadi pemicu kemiskinan itulah penyebabnya. Mengapa demikian? Sekitar tahun 1970 upah yang diperoleh buruh tani di bawah dari standar cukup.

Kemudian masuk di sekitar tahun 2000, buruh tani bekerja di hitung harian,  masuk tahun 2015an buruh tani ada yang mendapatkan  upah dengan nilai pekerjaan borongan. Sebagai  contoh,  mempersiapkan lahan tanam di sawah seluas 1 ha total berapa rupiah dengan pemilik  lahan tanpa menghitung berapa hari pekerjaan tersebut diselesaikan. Bahkan, penentuan harganya malah bukan dari pemilik sawah melainkan buruh tani itu sendiri.

Terus mengapa masih dibilang pendapatanya tidak cukup? Jika dihitung secara  detil matematis, per hari gaji buruh tani 80 rb sudah mendapatkan makanan, rokok,  kopi dan kue. Berarti dalam sehari sudah bersih 80 rb x 60 hari ( tanam padi sampai panen kerja hanya 60 hari,  lainya istirahat), total 4.800.000. Sebuah nominal pendapatan  yang sudah mendekati UMR kabupaten Ngawi tahun 2020 misalnya.

Kalau hanya sekedar mengandalkan pendapatan dari buruh tani dapat kita pastikan akan kurang, karena masih ada selisih 700.000 per bulan untuk sampai UMR. Maka upaya untuk menepis kekurangan tersebut buruh tani harus mampu memanfaatkan waktu sisa 2 bulan luang tidak ada pekerjaan dengan mengoptimalkan kerja perhari dari 6 jam menjadi 8 jam.

Selama dua bulan kosong bisa bekerja di bangunan, bekerja di warung makan ataupun pergi ke kota, berwirausaha, dagang kecil-kecilan atau merambah usaha ke bidang tanam sayur atau perkebunan.  Mengoptimalkan kerja perhari bisa menggarap kebun disekitar rumah untuk membuat sayur dan dijual sayurnya. Beternak kambing ataupun sapi sebagai tabungan jangka panjang.

Inilah beberapa upaya yang dapat dilakukan buruh tani di desa yang akhirnya berhasil menyekolahkan anaknya sampai SMA dan membuat rumah, punya sepeda motor serta  meningkatkan derajat kesejahteraan keluarga  mereka. Kuncinya ada di keuletan dan etos kerja, kemauan serta tekad untuk menjadi lebih sejahtera.

Suke Pangon

Malioboro di Ngawi?

Ketika ada berita pembangunan di Ngawi saya merasa bangga, turut bahagia karena itu semacam indikator Ngawi terus berbenah. Berarti Ngawi berusaha untuk memoles diri agar masyarakat tertarik dan berkembang.

Dalam konteks pembangunan berarti ada dana untuk membangun. Hasil pembangunan yang tepat sasaran akan menjadikan kemolekan yang selaras pada satu tempat. Menarik orang dan membuatnya melirik. Melirik disini orang akan singgah dan bahkan bisa juga berinvestasi. Harapan kemudian yang muncul adalah dana akan banyak beredar di Ngawi dan kesejahteraan yang dicitakan terwujud.

Berita yang cukup santer di akhir-akhir waktu kemarin adalah Jalan Yos Sudarso yaitu Perempatan Kartonyono ke utara sampai alun alun Ngawi akan dijadikan sebagai lapak dagang kaki lima, sebelas dua belas dengan konsep Malioboro yang dimiliki Jogja.

Malioboro berada di Yogyakarta merupakan pusat belanja terbesar dan termurah. Banyak Wisatawan dari dalam negeri maupun mancanegara akan menyempatkan untuk berbelanja. Kekhasan nuansa malam di Malioboro juga semakin asik.

Secara Histori Yogyakarta merupakan Daerah Istimewa dengan kepala Pemerintahan Raja. Dikenal sudah sejak Belanda menduduki Indonesia. Wisatawan banyak berkunjung ke Yogyakarta karena banyaknya tempat wisata, sehingga orang mau berkunjung kesana. Selain itu sarana dan prasarana selalu diperbaiki untuk menunjangnya. Seperti di Gunung Kidul ada Gua Pindul mulai terkenal maka akses jalan selalu diperbaiki agar wisatawan berkunjung mudah aksesnya.

Ketika wisatawan berkunjung pastilah kebutuhan makan menjadi kewajiban yang disediakan begitupun juga oleh oleh sebagai buah tangan dibawa pulang dan kenang kenangan. Selain itu Hotel sebagai penunjang wisatawan menginap tersedia. Sehingga keberadaan konsep angkringan dan pusat perbelanjaan seperti Malioboro seolah sesuai dan tepat sasaran.

Nah sedangkan di Ngawi konsep dan narasi pembangunan Malioboro seperti apakah yang hendak disajikan? Adakah kajian bisnis yang benar-benar mengantarkan Ngawi pada status strategis atau sekedar pembangunan umum seperti ikut kebanyakan?

Siapakah target pasar yang mau disasar? Kita tentu tahu di Ngawi pasar akan ramai saat panen tiba, kalau itu targetnya masyarakatnya sendiri.

Kalau orang luar dari Ngawi apakah akan tertarik untuk singgah kalau modelnya sama dengan malioboro. Kita tentu tau kalau Ngawi dilewati jalur antar kota antar Provinsi. Untuk Wisatawan luar negeri biasanya dari Yogyakarta ke Bromo lewat Ngawi atau sebaliknya. Dan Jalur darat ini ramai saat mudik tiba. Itu sebagai kilas singkat gambaran Ngawi dan geografis perekonomian nya.

Menunggu pemaparan yang akan disampaikan terkait kajian pembangunan Kaki lima, semoga memang pembangunan ini sangat dibutuhkan Ngawi dan juga memberikan efek positif bukan hanya meniru akhirnya tujuan peningkatan ekonomi tidak terlaksana.

Suke Pangon

Berita dari https://kampoengngawi.com/sentra-pedagang-kali-lima-jalan-yos-sudarso-ngawi-diperkirakan-bisa-terwujud-akhir-tahun-2020/

Pesta Rakyat yang di Mewahkan

Masa pandemi corona yang belum juga berakhir ditambahkan dengan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyebabkan kondisi ekonomi menurun. Masyarakat yang biasanya memiliki pemasukan berujung pada putusnya pendapatan. Misalnya petani yang saat tidak punya uang biasanya menjual ternak jika punya ternak. Kemudian saat pasar hewan tutup maka tidak dapat menjual ternaknya. Dan terpilihlah opsi untuk menjual ke blantik dengan harga di bawah pasaran.

Juga dari sekolah misalnya, yang diliburkan membuat pedagang kecil disekitaran sekolah seperti penjual cilok tidak mendapatkan pemasukan.

Di saat pelonggaran PSBB dengan penerapan New Normal semua aktivitas mulai dibuka tetapi harus mematuhi protokol kesehatan memunculkan harapan baru agar ekonomi mulai bergeliat, naik ke atas.

Seiring pelnggaran PSBB, pemerintah juga melanjutkan agenda politiknya seperti pemilihan kepala daerah (pilkada) tertuang dalam peraturan komisi pemilihan umum (PKPU) no 5 tahun 2020.

Apakah saat pencoblosan pilkada akhir tahun 2020 pandemi corona sudah berakhir? Dan apakah kondisi masyarakat ekonominya sudah pulih kembali. Karena para pakar ekonomi memprediksi bahwa ekonomi akan pulih setelah dua tahun.

Masyarakat yang masih shock dengan kondisi perekonomian dan masih cemas dengan adanya pandemi corona. Maukah kemudian masyarakat memikirkan tentang politik dan antusias menyambut pilkada terutama di tengah kondisi demikian?

Membincang peta politik di kabupaten Ngawi, melalui jalur independen yang tampak sudah tidak bisa dijalankan. Waktunya sudah berakhir. Hampir semua parpol yang mempunyai kursi di DPRD merekomendasikan pada satu dukungan Ony Anwar – Dwi Rianto Jatmiko. Jadi pastinya hanya akan satu calon saja yang akan maju. Ini menandakan tidak ada calon potensial yang melawan petahana. Bisa jadi pilkada nanti tidak akan seru. Yang ada pilihannya cuma setuju dan tidak setuju.

Calon yang merupakan petahana dan tunggal akan memunculkan berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan kekosongan narasi kepemimpinan yang baru untuk membangun daerah. Yang tampak real sekarang adalah belum hadirnya gagasan gagasan yang spektakular seperti jargon dan propaganda menuju kemenangan.

Barangkali saja, di tengah kondisi serta kontes politik seperti sekarang ini “Tidak menyelenggarakan pesta rakyat bisa menjadi opsi”. Tidak perlu adanya sebuah pilkada yang menghambur hamburkan, cukup aklamasi DPRD saja dalam menentukan Bupati dan wakil bupati. Alokasi dana pilkada dialihkan untuk masyarakat bantuan langsung. Nilainya cukup fantastis diatas 50 Milyar dibagi rata masyarakat tidak mampu. Lebih cukup menjanjikan, bukan?

Suke Pangon