Titik Bermula

Malam menjelang larut. Saat selesai bersih-bersih dan bersiap untuk istirahat. Kuberanikan mengutarakan niat lewat obrolan ringan. Mendekat sembari bersandar dipundakmu, kudengar merdu lantunan kalamullah dari suaramu.

Biar lebih tenang, itu pikirku.

“Suamiku, bolehkah aku mulai meniti karir lagi? “, ucapku perlahan setelah mushaf quran kau tutup dan jari tangan mengusap kepalaku yang terlanjur nyaman bersandar di pundakmu.

Setelah memutuskan hampir setahun resign dari pekerjaan. Jenuhku mulai muncul.

” Kamu sehari-hari di rumah kan juga sudah bekerja, bahkan nyaris 24 jam sehari-hari”, jawabmu lembut.

Malam terasa semakin panjang dengan diskusi yang kita ciptakan. Itu yang aku suka dari kamu, tak pernah memaksa, apalagi menyetir. Selalu memintaku mempertimbangkan sebelum berkeputusan. Kebiasaanmu sekedar mengarahkan dengan saran.

“Betul, tapi aku sudah rindu dengan profesiku”, jelasku menambah.

Kamu menatapku dengan senyum manis dan berkata ” Sudah dipikirkan dengan matang matang?”, aku jawab dengan mengangguk. “Sudah coba istikarah juga”, kataku.

Tidak lekas mengiyakan, kamu menanyakan tentang kelanjutan rencana pendidikanku. ” Kuliah keluar negerinya, ditunda? “. Aku diam.

Selang beberapa saat, aku menjelaskan bahwa kuliah keluar negeri tetap jadi mimpi. Tapi prosesnya yang tidak bisa sesegera membuatku mengubah prioritas kala itu. Kamu tampak mengangguk-angguk dan memahami maksud keinginanku.

Seperti janji sebelum pernikahan, ” Aku tidak akan menghalangimu berkarir, sayang. Tapi komitmen harus tetap kita bangun dan kuatkan. Kamu harus tetap menjaga tugas dan peranmu sebagai seorang istri dengan sebaik-baiknya”.

Aku mengangguk, mengiyakan.

“Istikarahkan lagi, libatkan Allah dalam setiap keputusan. Biar Allah ridha pada perjalanan keluarga kita”, bisikmu sembari mendekap.

Seperti ada pesan sponsor dari buku-buku favoritmu di akhir diskusi kita seperti bisa. “Kalaupun bekerja nanti, jangan lupa tetap jaga iklim menulis. Tan bilang, ciri utama kalangan terpelajar adalah mampu menulis, dengan tulisan kalian dapat mengabarkan apapun kepada dunia”.

Senyumku bertemu senyummu, dan kita tertawa bersama-sama.

Sampai jumpa di esok pagi, dengan restu dan semangat hidup yang lebih baik lagi. Mari istirahat dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *