Diam Mikir Belanja, Gerak Takut Corona

Mungkin sebagian orang akan merasa berfikir konyol dengan judul seperti ini, namun itu untuk kalangan berada/mampu atau minimal untuk kluster menengah ke atas.

Mari kita cermati dari beberapa kejadian, pertama ketika sekolah diliburkan berdampak kepada pedagang keliling yang biasa berjualan ke sekolah harus ikut libur menyesuaikan. Mungkin di situlah perkerjaan utama mencari nafkahnya menyebabkan berkurang atau tidak adanya pemasukan.

Pedagang kaki lima yang biasa berjualan saat sore hari seperti sate, nasi goreng, ayam penyet, nasi uduk, omset juga menurun saat kondisi seperti ini. Penjualannya kurang dari setengah seperti hari biasa, orang banyak takut keluar.

Ojek online pastinya berdampak ketika sekolah diliburkan, pegawai yang bekerja di instansi diganti bekerja dirumah, mall ditutup, buruh pabrik diliburkan, pendapatan hanya berasal dari antar makanan. Pendapatan bisa dipastikan berkurang.

Buruh kasar gajinya pas pasan ketika masuk kerja sekarang ketika dirumahkan mendapatkan uang dari mana? Padahal ada yang namanya kebutuhan pokok yang harus selalu mereka penuhi.

Sedikit gambaran kelas menengah kebawah seperti di atas adalah kondisi yang perlu mendapatkan perhatian di tengah wabah Corona yang belum tau kapan berakhir. Mungkin sebagian dari kita mempunyai cadangan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sebulan, dua bulan bahkan setahun andaipun tidak bekerja. Atau bagi pegawai tetap, aparatur sipil negara maupun lainnya yang sudah pasti mendapatkan gaji barangkali hal demikian tidak mengapa.

Lantas bagaimana mereka yang harus menggantungkan rejeki dari nafkah-nafkah jalanan dan pundi-pundi honor harian? Diam di rumah, mereka mikir uang belanja, keluar rumah mereka takut Corona. Sedangkan hidup tetap harus mereka putar sebagaimana biasanya, agar dapur tetap mengepul dan jalan tegap menegak punggung.

Suke Pangon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *