Malioboro di Ngawi?

Ketika ada berita pembangunan di Ngawi saya merasa bangga, turut bahagia karena itu semacam indikator Ngawi terus berbenah. Berarti Ngawi berusaha untuk memoles diri agar masyarakat tertarik dan berkembang.

Dalam konteks pembangunan berarti ada dana untuk membangun. Hasil pembangunan yang tepat sasaran akan menjadikan kemolekan yang selaras pada satu tempat. Menarik orang dan membuatnya melirik. Melirik disini orang akan singgah dan bahkan bisa juga berinvestasi. Harapan kemudian yang muncul adalah dana akan banyak beredar di Ngawi dan kesejahteraan yang dicitakan terwujud.

Berita yang cukup santer di akhir-akhir waktu kemarin adalah Jalan Yos Sudarso yaitu Perempatan Kartonyono ke utara sampai alun alun Ngawi akan dijadikan sebagai lapak dagang kaki lima, sebelas dua belas dengan konsep Malioboro yang dimiliki Jogja.

Malioboro berada di Yogyakarta merupakan pusat belanja terbesar dan termurah. Banyak Wisatawan dari dalam negeri maupun mancanegara akan menyempatkan untuk berbelanja. Kekhasan nuansa malam di Malioboro juga semakin asik.

Secara Histori Yogyakarta merupakan Daerah Istimewa dengan kepala Pemerintahan Raja. Dikenal sudah sejak Belanda menduduki Indonesia. Wisatawan banyak berkunjung ke Yogyakarta karena banyaknya tempat wisata, sehingga orang mau berkunjung kesana. Selain itu sarana dan prasarana selalu diperbaiki untuk menunjangnya. Seperti di Gunung Kidul ada Gua Pindul mulai terkenal maka akses jalan selalu diperbaiki agar wisatawan berkunjung mudah aksesnya.

Ketika wisatawan berkunjung pastilah kebutuhan makan menjadi kewajiban yang disediakan begitupun juga oleh oleh sebagai buah tangan dibawa pulang dan kenang kenangan. Selain itu Hotel sebagai penunjang wisatawan menginap tersedia. Sehingga keberadaan konsep angkringan dan pusat perbelanjaan seperti Malioboro seolah sesuai dan tepat sasaran.

Nah sedangkan di Ngawi konsep dan narasi pembangunan Malioboro seperti apakah yang hendak disajikan? Adakah kajian bisnis yang benar-benar mengantarkan Ngawi pada status strategis atau sekedar pembangunan umum seperti ikut kebanyakan?

Siapakah target pasar yang mau disasar? Kita tentu tahu di Ngawi pasar akan ramai saat panen tiba, kalau itu targetnya masyarakatnya sendiri.

Kalau orang luar dari Ngawi apakah akan tertarik untuk singgah kalau modelnya sama dengan malioboro. Kita tentu tau kalau Ngawi dilewati jalur antar kota antar Provinsi. Untuk Wisatawan luar negeri biasanya dari Yogyakarta ke Bromo lewat Ngawi atau sebaliknya. Dan Jalur darat ini ramai saat mudik tiba. Itu sebagai kilas singkat gambaran Ngawi dan geografis perekonomian nya.

Menunggu pemaparan yang akan disampaikan terkait kajian pembangunan Kaki lima, semoga memang pembangunan ini sangat dibutuhkan Ngawi dan juga memberikan efek positif bukan hanya meniru akhirnya tujuan peningkatan ekonomi tidak terlaksana.

Suke Pangon

Berita dari https://kampoengngawi.com/sentra-pedagang-kali-lima-jalan-yos-sudarso-ngawi-diperkirakan-bisa-terwujud-akhir-tahun-2020/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *