Misteri pembangunan Benteng Indra Patra

Benteng Indra Patra

ACEH BESAR- Benteng menurut Marihandono (2010)adalah bangunan untuk keperluan militer yang dibuat untuk keperluan pertahanan sewaktu dalam peperangan, sekaligus sebagai tempat perlindungan bagi mereka yang tinggal di dalamnya.

Di kawasan Aceh Besar, kita akan dapati peninggalan Benteng Indra Patra yang terletak di Pantai Ujong Batee, Desa Ladong, Jalan Krueng Jaya, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Aceh yang sejak tempo dulu menjadi pusat perdagangan di Selat Malaka sangat memerlukan sebuah benteng guna menjaga keamanan kotanya sekaligus menjamin keselamatan penduduk di dalamnya dari serangan musuh.

Selain Indrapatra di sepanjang pesisir pantai utara terdapat beberapa benteng lain antara lain; Benteng Iskandar Muda, Benteng Kuta Lubok, Benteng Inong Balee.

Dilihat dari seni bangunan dan arsitektur, Benteng Indrapatra menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan benteng-benteng disekitarnya. Berdasarkan pada bentuk bangunan yang nampak, Benteng Indrapatra telah mengalami beberapa tahap periodisasi dalam bentuk dan fungsinya. Adanya pendapat bahwa benteng ini merupakan warisan tradisi masa Hindu tidak dapat kita kesampingkan begitu saja. Ini dapat dilihat dari beberapa kenampakan bagunan yang masih tersisa yang menunjukkan adanya pengaruh dari tradisi Arsitektur masa sebelum Islam dalam hal ini masa Hindu.

Apabila berpijak pada konsepsi pemikiran oleh beberapa sumber yang menyatakan bahwa keberadaan Benteng Indrapatra jauh sebelum masuknya Islam dan difungsikan menurut kebutuhan pada masanya. Pada awal keberadaanya atau kedatangan agama Hindu, benteng tersebut kemungkinan difungsikan sebagai tempat ibadah atau kegiatan ritual keagamaan. Selain itu juga merupakan tempat hunian para keluarga raja dan pembesar istana.

Setelah masuknya Islam, terjadi perubahan fungsi yang cukup drastis, yaitu menjadi sebuah benteng pertahanan. Hal ini ditunjukan dengan adanya komponen bangunan seperti tapal kuda yang biasanya berfungsi sebagai tempat meletakkan moncong meriam. Selain itu benteng ini juga dikelilingi oleh parit yang berfungsi sebagai sarana pertahan, yaitu sebagai penghambat gerakan musuh yang akan mencapai benteng. Keberadaan parit keliling benteng ini banyak dijumpai pada benteng-benteng keraton di Pulau Jawa. Di keraton-keraton Jawa parit keliling ini disebut jagang, dan biasanya di tempatkan buaya di dalamnya. Dalam buku ‘ Tarech Aceh dan Nusantara” disebutkan bahwa di Aceh Besar terdapat sebuah benteng yang bernama Indrapatra. Menurut buku tersebut, bangunan benteng itu bukan merupakan candi atau masjid, tetapi tempat menyimpan alat-alat senjata perang seperti bedil, mesin pelor, meriam dan lain-lain. Ada kemungkinan bahwa pada waktu itu Sultan Iskandar Muda merebut benteng tersebut setelah sebelumnya sempat dipakai oleh Portugis (Zainuddin, 1961:43).

Suke Pangon, dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *