Gunung Kering, Ngare Subur

Rerata masyarakat secara luas memahami bahwa pegunungan merupakan tempat yang sejuk dan subur. Aliran air yang terus menerus sepanjang waktu. Pertanian menjadi komoditas andalan. Seperti padi, ketela dan sayuran. Udara pun segar juga pemandangannya asri.

Beberapa tahun lalu, ketika pergi ke pasar area atas seperti Ngrambe dengan naik bus. Sepanjang jalan dimanjakan dengan udara sejuk dan pemandangan hijau, dipinggir jalan terdapat sungai mengalir. Namun sekarang bagaimana? Kondisi sudah berubah menjadi panas dan dipinggir jalan air sudah tidak mengalir.

Ketika kita perjalanan dari kota, sampai Soco maka akan terlihat hamparan sawah yang kering tidak lagi ditanami, kadang setahun cuma sekali tanam. Itu yang terlihat dari pinggir jalan, bagaimana dengan tempat yang lainya?

Beberapa tempat di daerah Jogorogo, Ngrambe dan Sine sudah tidak ada aliran air dari sungai sepanjang tahun. Menyebabkan sudah tidak bisa bertanam padi setahun 3 kali, kadang malah sekali saja kalaupun itu ada musim penghujan.

Ada yang bilang sumber air sebagian di ambil untuk air minum. Sehingga berakibat aliran untuk sungai jadi berkurang. Apakah penyebabnya itu saja? Ataukah memang cuaca yang berubah. Ataukah pegunungan sudah berkurang tanamanya sehingga saya resap tetumbuhan di musim penghujan jadi berkurang?

Akhirnya ada perubahan secara sosial dalam masyarakat. Kalau dulu gunung selalu hijau tanaman adanya air sepanjang tahun, sekarang kering karena aliran air gak sepanjang tahun. Sedangkan ngare mulai dari kerten sudah ada sumur menjadikan pertanian hijau sepanjang tahun. Kemudian, untuk tetap bertahan hidup, masyarakat di pegunungan beralih profesi menjadi pedagang.

Bagaimana cara mengembalikan gunung menjadi hijau, aliran air tetap terjaga sepanjang tahun? Karena kondisi tersebut lah yang menjadi kerinduan, yang secara tidak langsung akan meningkatkan ekonomi karena akan ada yang kembali ke pertanian.

Suke Pangon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *