Menakar Eksistensi Wayang Kulit Dalam Tradisi Bersih Desa

Tradisi Bersih Desa merupakan tradisi kebudayaan tahunan. Tradisi yang dilaksanakan setiap selesai panen raya. Ritual tersebut dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan hasil panen yang melimpah.

Prosesi pelaksanaan biasa dimulai dengan gotongroyong membersihkan masjid, kuburan, halaman rumah dan jalan-jalan di pagi hari. Hal ini dimaksudkan agar keadaan desa nampak bersih.

Siang harinya, seluruh warga desa mengadakan kenduri yang biasa dilaksanakan di suatu halaman masjid atau halaman/lapangan yang luas tertentu yang disepakati masyarakat setempat. Warga membawa perlengkapan kenduri masing-masing berupa nasi dan lauk yang ditempatkan pada encek, ceting atau penampan. Selanjutnya diadakan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa atau Modin.

Tiba malam hari diadakannya acara pertunjukan wayang kulit yang bertempat di halaman rumah pamong desa. Pertunjukan Wayang kulit ini bertujuan sebagai sarana hiburan sekaligus pendidikan untuk warga desa. Dalam Lakon Wahyu memberikan tuntunan, tontonan, dan tatanan dalam masyarakat. Karena dalam lakon tersebut, berisikan nilai-nilai yang memperkaya pengalaman jiwa yang tidak lepas dari nilai kemanusiaan, Ketuhanan, keadilan, tapa brata, dan keagungan.

Era milenial seperti sekarang terdapat sedikit pergeseran eksistensi pagelaran wayang di kegiatan bersih desa seperti ini. Perihal tontonan warga desa, sehingga pertunjukan wayang kulit sedikit di geser agak malam mulainya. Sehabis magrib diadakanya kegiatan pentas seni dari anak anak warga desa dan habis isya hiburannya electone. Sehingga lagi-lagi, pertunjukan wayang yang syarat pesan moral dan nilai hanya disaksikan sesepuh/orang dewasa. Terputusnya penuturan sejarah mulai tercipta di sini. Barangkali sekarang memang yang lagi ngetrend dikalangan milenial desa lagu koploan?

Apakah pertunjukan wayang kulit akan semakin terdesak dan menghilang seiring zaman? Kita lihat lima atau sepuluh tahun kedepan. Semoga generasi penerus kita tidak meninggalkan dan ditinggalkan sejarah serta budayanya.

One thought to “Menakar Eksistensi Wayang Kulit Dalam Tradisi Bersih Desa”

  1. Sekarang memang bahasa jawa sudah mulai luntur dikalangan masyarakat, bagaimana bisa generasi selanjutnya bisa menyukai wayang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *