Tanah Surga Merah

Identitas Buku

Judul: Tanah Surga Merah
Penulis: Arafat Nur
ISBN: 978-602-03-3335-9
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, Januari 2017

Sinopsis

Arafat Nur menyajikan cerita berlatar belakang kampung halamannya, Aceh. Novel yang ia hidupkan dengan tokoh utama bernama Murad. Seorang eks gerilyawan dari Partai Merah, karena kekecewaan ia memilih keluar dan dengan kecerdasan yang ia miliki dikabarkan membuat partai pecahan, Partai Jingga.

Kecewa yang tercampur benci dan rasa jijik melihat kemunafikan dan perubahan orientasi para penguasa kala itu membuat ia geram. Jumadi, seorang tokoh yang ia kisahkan sebagai seorang pemimpin daerah dari Partai Merah kala itu bersikap semena-mena dan memperturutkan nafsu bejat untuk memperkosa seorang perempuan yang masih saudara Murad. Ditembaklah selangkangan sang pemimpin tersebut, akhirnya ia menjadi buruan.

Lari ke Batam lantas ke Riau, menjadikan kerinduannya akan kampung halaman semakin membuncah setelah lima tahun ia tinggal. Kampung halaman yang menjadi tanah surga baginya. Kenapa penggarang menggunakan Surga Merah? Untuk mewakilkan cerita pertumpah darahan yang terjadi di Aceh kala konflik Nanggroe Aceh Darussalam dengan Indonesia.

Murad pulang ke kampung halaman dengan kerinduan yang ia beranikan. Ia sulap penampakan jambang hingga kumis, ia temui kawan lama yang ia percaya. Meski berubah penampilan, Murad tetap dicurigai dan diburu. Dikuntit, dikeroyok hingga ke manapun pergi ia terus dicari. Sampailah bersama dengan Jemala, seorang gadis belia melarikannya ke perkampungan sebrang hutan belantara.

Ending cerita, pengarang serahkan pada pembaca. Dia dan Jemala menghirup lepas udara alam di hamparan tanaman ganja.

Melalui pengisahan tokoh sampingan sekaligus teman Murad, ruh yang ingin disampaikan Arafat dalam novel sastra ini adalah kritik sosial dan kepemimpinan.

Sebagaimana Abduh-Husna sesosok pegawai yang sangat peduli dengan kesadaran baca orang Aceh, Muhtar seorang pejuang gerilyawan yang kemudian hidup sengsara dan penuh keterbatasan, Imran pejuang gerilyawan yang beda kubu namun mampu menyiasati hidup dengan sederhana. Hadi Kriet, pejuang yang telah tergoda oleh jabatan anggota dewan serta hidup dengan kemegahan. Dilengkapi dengan kondisi sosial budaya serta adat Aceh dalam penuturan, menjadikan pembaca semakin mengenal bagaimana dan seperti apa Aceh.

Selamat membaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *