Trah Petani Yang Tak Lagi di Wariskan

Apa yang muncul dalam benak pikiran anda ketika disebutkan kata petani? Dari dulu sampai sekarang pasti jawabanya adalah sebagian besar mata pencaharian penduduk Indonesia terutama di daerah pedesaan.

Petani menjadi mata pencaharian primadona bagi penduduk kelahiran tahun 50 dan 60, mengapa bisa begitu? Peminatan mata pencaharian tampaknya mulai mengalami pergeseran di penduduk kelahiran 80 sampai 2000. Rerata mereka yang sudah lulus sekolah menengah atas atau bahkan kuliah apakah menjadi petani? Sebagian besar tidak. Meski mayoritas mereka adalah anak petani.

Menurut data dari BPS per Febuari 2017 mencatat jumlah petani Indonesia tinggal 36 juta orang, turun 1,2 juta sejak Febuari 2014. Mengapa penurunan jumlah petani ini bisa terjadi? Salah satu sebabnya anak petani sudah tidak lagi berminat untuk jadi petani.

Miris? Tidak. Hal ini lumrah sebenarnya, seperti halnya anak guru belum tentu menjadi guru ataupun anak pedagang belum tentu jadi pedagang.

Terlebih dengan melihat menggunaka perspektif harapan dari para petani, kebanyakan berharap anak mereka dapat hidup lebih enak dan gak susah seperti mereka. Tidak bekerja banting tulang siang dan malam di sawah. Banyak bapak ibu petani berharap anaknya menjadi seorang pegawai negeri sipil, militer, polisi atau pegawai BUMN karena bekerja tidak kepanasan dan tidak perlu memakai otot untuk mencari penghasilan, cukup duduk di ruang tertutup berhadapkan buku, bulpen dan layar komputer. Selain itu setelah pensiun masih mendapatkan tunjangan. Anak dapat mengubah nasib menjadi lebih baik dari mereka, itu harapnya.

Harapan demikian bakal gayung bersambut, anak para petani di era milineal ini kemudian dinaikkan gengsinya. Mereka beranggapan menjadi petani adalah pekerjaan kasar dan rendahan.

Ditinjau secara ekonomi memang pekerjaan petani itu tidak ada memberikan untung besar karena input sekarang sudah tinggi tidak cukup untuk membiayai biaya hidup apalagi jika sekedar buruh petani.

Saprodi (sarana produksi) bibit padi mahal, obat obat pertanian mahal dan cenderung naik, pupuk subsidi susah dicari kalaupun ada tidak sesuai dengan keinginan petani karena sudah dijatah pemerintah. Irigasi yang harus memakai sumur bor, kuli kasar sudah banyak berkurang dan yang terkahir adalah hasil penjualan hasil produksi yaitu gabah masih sangat rendah karena pastinya pemerintah masih juga impor beras.

Namun sejatinya kondisi demikian harus segera disikapi. Menyikapinya dengan cara apa? Anak-anak petani atau sarjana-sarjana pertanian mengimplementasikan ilmu tinggi dan wawasan luas yang mereka dapatkan di bangku-bangku pendidikan agar pertanian pedesaan terus meningkat kualitasnya serta bertambah kuantitasnya.

Semoga pertanian Indonesia dapat segera terselamatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *